Cegah Diabetes Sejak Dini, Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo Edukasi Warga dan Serahkan Bantuan Alat Kesehatan untuk Kelurahan Ipilo

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi D-III Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo berfoto bersama aparat Pemerintah Kelurahan Ipilo di sela kegiatan. (Dok. Tim PkM)

Halaman Kantor Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Tenda didirikan, meja skrining kesehatan berjajar rapi, dan puluhan warga mulai berdatangan sejak pagi — bukan untuk mengurus administrasi kependudukan, melainkan untuk memeriksakan kadar gula darah mereka. Rabu, 12 Agustus 2026, Kelurahan Ipilo menjadi lokasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Program Kemitraan Masyarakat yang digagas Program Studi Diploma III Farmasi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Gorontalo, mengusung tema “Skrining, Edukasi, dan Pemantauan Minum Obat (PMO) pada Penderita Diabetes Melitus”.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, digagas oleh Fadlun Abubakar, S.Si., M.Si., bersama tim dosen dan mahasiswa. Sasarannya jelas: menekan angka penderita Diabetes Melitus (DM) yang dari tahun ke tahun terus merangkak naik, sekaligus membekali masyarakat dengan pengetahuan untuk mengelola penyakit ini secara mandiri sebelum berujung pada komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga gangguan penglihatan.

Skrining dan Edukasi bagi 50 Warga Ipilo

Sebanyak 50 peserta hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan — mulai dari penderita Diabetes Melitus, kader kesehatan, Kelompok Wanita Tani (KWT), anggota UP2K, hingga aparat Kelurahan Ipilo. Acara dibuka dengan registrasi dan pengisian pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal peserta tentang Diabetes Melitus.

Petugas memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah peserta menggunakan glukometer sebagai bagian dari skrining kesehatan dan deteksi dini Diabetes Melitus.

Dari meja pre-test, peserta diarahkan ke meja skrining kesehatan: pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, lingkar perut, hingga kadar gula darah sewaktu. Satu per satu warga duduk, lengan mereka dilingkari manset tensimeter, jari mereka ditusuk jarum kecil untuk setetes darah — sebuah rutinitas yang sederhana, namun bisa menjadi langkah pertama yang menyelamatkan banyak nyawa.

Apresiasi dari Pemerintah Kelurahan

Dalam sambutannya, Kepala Kelurahan Ipilo Bapak Ibrahim Ulyas Rauf,S.IP menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Kelurahan Ipilo sebagai lokasi kegiatan pengabdian ini.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Program Studi Diploma III Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo atas kepeduliannya kepada masyarakat Kelurahan Ipilo. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara mencegah dan mengendalikan Diabetes Melitus. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat.”— Kepala Kelurahan Ipilo

Anggota tim pengabdian memaparkan materi edukasi mengenai faktor risiko, gejala, serta pencegahan dan pengendalian Diabetes Melitus kepada peserta.

Usai skrining, peserta mengikuti penyuluhan interaktif yang membahas faktor risiko, tanda dan gejala DM, pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik, pemeriksaan gula darah berkala, hingga kepatuhan minum obat. Materi disampaikan dengan bahasa yang membumi, diselingi tanya jawab langsung, sehingga peserta leluasa menceritakan keluhan dan kendala yang mereka hadapi sehari-hari dalam mengelola penyakitnya.

Sebagai bentuk inovasi, tim pengabdian turut memperkenalkan konsep Pengawas Minum Obat (PMO) — pendamping yang membantu penderita DM tetap disiplin menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan, sehingga risiko komplikasi akibat ketidakpatuhan pengobatan dapat ditekan.

TOGA: Dapur Rumah sebagai Terapi Pendamping

Peserta didampingi tim pengabdian mempraktikkan langsung cara mengolah tanaman obat keluarga menjadi minuman herbal.

Sesi yang tak kalah dinanti adalah demonstrasi pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Jahe, kunyit, sereh, dan nanas yang selama ini akrab di dapur rumah tangga, diperkenalkan sebagai bahan minuman herbal yang bisa diolah sendiri di rumah. Tim pengabdian menegaskan bahwa TOGA bukan pengganti obat medis, melainkan pelengkap yang mendukung pola hidup sehat bila dimanfaatkan secara bijak.

Investasi Kemitraan: Alat Kesehatan Diserahkan kepada Kelurahan Ipilo

Rangkaian kegiatan ditutup dengan momen simbolis yang menjadi penanda keberlanjutan program: penyerahan bantuan alat kesehatan sebagai bentuk investasi kemitraan dari tim pengabdian kepada Kelurahan Ipilo selaku mitra sasaran. Paket alat berupa perangkat glukometer beserta kelengkapannya, kartu PMO, Modeul Edukasi serta bibit tanaman obat keluarga diserahkan secara simbolis kepada Kepala Kelurahan Ipilo, disaksikan kader kesehatan, Pembina KEWT dan anggotanya serta dari UP2K dan warga yang hadir.

Bantuan ini dimaksudkan agar kegiatan skrining kesehatan tidak berhenti pada hari itu saja. Dengan alat yang tersedia di kelurahan, kader kesehatan setempat diharapkan dapat melanjutkan pemantauan tekanan darah dan gula darah warga secara mandiri dan berkala, sementara bibit TOGA menjadi modal awal bagi KWT dan UP2K untuk mengembangkan kebun tanaman obat keluarga sebagai sumber terapi pendamping yang mudah diakses masyarakat.

Kepala Kelurahan Ipilo menerima bantuan tersebut dengan menyampaikan komitmennya untuk merawat dan memanfaatkan alat tersebut sebaik-baiknya bagi pelayanan kesehatan warga, sekaligus menjadikannya modal untuk mengaktifkan kembali kegiatan posyandu lansia dan posbindu penyakit tidak menular di wilayah Kelurahan Ipilo.

Antusiasme Peserta dan Hasil yang Menggembirakan

Peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab bersama tim pengabdian.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan mengalir, mulai dari pengaturan pola makan, penggunaan obat antidiabetes yang benar, hingga keamanan tanaman herbal bagi penderita DM. Diskusi yang hidup ini menjadi bukti tingginya rasa ingin tahu masyarakat terhadap informasi kesehatan yang benar dan aplikatif.

Hasil evaluasi kegiatan pun menunjukkan dampak yang signifikan. Dari 45 peserta yang mengikuti pre-test dan post-test secara lengkap, rata-rata nilai pengetahuan melonjak dari 30,4 sebelum edukasi menjadi 79,3 setelah edukasi — kenaikan rata-rata sebesar 48,9 poin. Sebelum kegiatan, 95,6% peserta masih berada pada kategori pengetahuan kurang; setelah edukasi, kategori tersebut tak lagi ditemukan. Sebanyak 62,2% peserta kini berada pada kategori pengetahuan baik, dan 37,8% sisanya pada kategori cukup.

Harapan Keberlanjutan

Ketua Tim Pengabdian, Fadlun Abubakar, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan sekadar transfer informasi, melainkan upaya membangun perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya memahami apa itu Diabetes Melitus, tetapi juga mampu menerapkan pola hidup sehat, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan memanfaatkan tanaman obat keluarga secara tepat sebagai terapi pendamping. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan, dan masyarakat, kami optimistis upaya pengendalian Diabetes Melitus dapat dilakukan secara berkelanjutan.” — Fadlun Abubakar, S.Si., M.Si. — Ketua Tim Pengabdian

Keberhasilan kegiatan ini tak lepas dari dukungan Pemerintah Kelurahan Ipilo, Puskesmas Kota Timur, kader kesehatan, Kelompok Wanita Tani (KWT), UP2K, serta partisipasi aktif warga. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat inilah yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Kelurahan Ipilo.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Diploma III Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo berharap masyarakat Ipilo semakin terbiasa melakukan skrining kesehatan secara rutin, menerapkan pola hidup sehat, patuh terhadap pengobatan, serta memanfaatkan alat dan tanaman obat keluarga yang telah diserahkan — sehingga risiko komplikasi akibat Diabetes Melitus dapat ditekan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *